Microsoft Ignite baru saja berakhir, dan Citrix hadir dengan skala besar. Mulai dari pengumuman produk, sesi breakout, hingga booth besar kami, selama empat hari penuh kami menghidupkan diskusi tentang masa depan dunia kerja.
Salah satu cara seru kami berinteraksi dengan pengunjung adalah dengan mengajukan empat pertanyaan sederhana tentang AI di tempat kerja. Lebih dari 1.500 orang menjawab, dan hasilnya ditampilkan secara langsung melalui layar LED besar di tengah booth kami.
Awalnya, saya tidak terlalu menganggap serius hasil survei ini. Tujuannya memang untuk interaksi ringan, bukan riset ilmiah. Namun, saat melihat kembali foto-foto di perjalanan pulang, saya menyadari bahwa pertanyaan “iseng” ini justru mengungkap kenyataan menarik tentang IT dan para pekerja.
Siapa yang Mengendalikan AI? Karyawan!
Pertanyaan pertama yang kami ajukan adalah: Siapa yang mengendalikan AI di tempat kerja?
Sebagian besar responden menjawab: karyawan.
Ini menarik karena mayoritas responden kemungkinan besar adalah profesional IT, bukan end user biasa. Artinya, orang-orang yang seharusnya mengatur dan mengendalikan teknologi justru mengakui bahwa AI tidak sepenuhnya berada di bawah kendali mereka.
Selama beberapa bulan terakhir, saya sering menulis bahwa adopsi AI yang dipimpin oleh karyawan bergerak lebih cepat dibanding strategi resmi perusahaan. Banyak perusahaan menghabiskan jutaan dolar untuk program AI dari atas ke bawah, sementara karyawan mendapatkan manfaat nyata hanya dengan berlangganan ChatGPT seharga $20 per bulan. Tapi saya tidak menyangka IT akan secara terang-terangan mengonfirmasi hal ini.
Menarik juga melihat pembagian antara CIO (32%) dan CEO (12%). Bahkan ketika pimpinan dianggap memegang kendali, peran tersebut lebih sering dikaitkan dengan CIO daripada CEO. Artinya, memo “AI-first” dari ruang direksi belum tentu terasa nyata di lapangan. CEO mungkin menyalakan api, tetapi karyawan yang menentukan ke mana api itu menyebar.
Ini bukan kegagalan IT atau kurangnya visi pimpinan. Ini hanyalah kenyataan. Karyawan menemukan bahwa AI membuat pekerjaan mereka lebih mudah, dan seperti teknologi lain sebelumnya (smartphone, cloud, aplikasi SaaS), mereka tidak menunggu izin untuk menggunakannya.
AI Itu Ada di Mana? Di Mana-mana.
Pertanyaan kedua: Di mana AI seharusnya “absen” saat bekerja?
Hampir setengah responden menolak konsep pertanyaannya. Bagi mereka, perdebatan “di kantor atau di cloud” sudah tidak relevan.
AI bukan sesuatu yang “tinggal” di satu tempat. AI adalah kemampuan yang muncul di mana pun pekerjaan dilakukan.
Ini sejalan dengan konsep workspace di tahun 2025. Workspace bukan lagi sekadar perangkat, sistem operasi, atau lokasi fisik. Workspace adalah gabungan dinamis dari aplikasi, identitas, keamanan, dan konteks kerja di sekitar karyawan.
Karena itu, AI tidak bisa diatur hanya di level perangkat atau aplikasi. Pengelolaannya harus di level workspace, yaitu lapisan kontrol yang mengikuti pekerjaan ke mana pun ia berpindah, siapa pun yang melakukannya—bahkan jika itu AI.
Hambatan Terbesar AI? Biaya.
Pertanyaan ketiga: Apa tantangan infrastruktur terbesar untuk mengembangkan AI di virtual desktop atau Cloud PC?
Jawaban terbesarnya adalah biaya.
Bukan model AI. Bukan teknologi yang belum matang. Tapi ekonomi.
Keterbatasan GPU dan NPU pun pada akhirnya juga bermuara pada masalah biaya. Totalnya, lebih dari 60% responden melihat tantangan AI sebagai persoalan perhitungan biaya dan operasional.
Ini membuktikan bahwa AI kini sudah menjadi teknologi biasa. Tantangannya bukan lagi “apakah bisa?”, melainkan “bagaimana membuatnya masuk akal secara operasional?”. Integrasi, infrastruktur, kompatibilitas—hal-hal yang membosankan tapi krusial—kembali menjadi sorotan utama.
Yang Diinginkan Karyawan? Pulang Lebih Cepat.
Pertanyaan terakhir: Apa yang akan Anda lakukan dengan satu jam waktu yang dihemat AI setiap hari?
Inilah pertanyaan paling jujur—dan paling membuka mata.
Alih-alih ingin bekerja lebih keras atau mengejar target perusahaan, sebagian besar responden memilih menggunakan waktu itu untuk diri mereka sendiri.
Mereka tidak ingin KPI lebih tinggi.
Mereka ingin pulang jam 5.
Inilah alasan utama mengapa adopsi AI yang dipimpin karyawan melaju lebih cepat. Motivasi mereka bersifat personal, bukan korporat. Pimpinan ingin transformasi, karyawan ingin ruang bernapas. Dan alatnya ada di tangan karyawan.
Jika AI bisa menyelesaikan pekerjaan satu jam hanya dalam beberapa menit, wajar jika karyawan bertanya: kenapa sisa waktunya harus tetap milik perusahaan?
Kesimpulan
Empat temuan ini menunjukkan bahwa adopsi AI lebih manusiawi dan lebih berantakan daripada yang digambarkan oleh slide strategi konsultan.
-
Karyawan memegang kendali, dan IT mengetahuinya
-
AI harus ada di mana-mana, maka pengelolaannya juga harus menyeluruh
-
Tantangan utama adalah biaya dan operasional, bukan teknologi
-
Ketika AI menghemat waktu, karyawan memilih menyimpannya
Ini bukan krisis. Ini realitas. Solusinya bukan membatasi AI, tapi mengamankan workspace tempat pekerjaan benar-benar terjadi.
Temui karyawan di tempat mereka berada, sediakan pagar pengaman, lalu beri mereka ruang. Itulah yang telah Citrix lakukan selama puluhan tahun—dan pendekatan ini akan terus relevan saat AI semakin masuk ke dunia kerja.
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan citrix indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi citrix.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
