Belakangan ini, banyak orang membicarakan bagaimana kecerdasan buatan (AI) mulai menggantikan berbagai aplikasi Software as a Service (SaaS). Bahkan ada beberapa pengguna teknologi yang mengaku berhasil membatalkan langganan berbagai layanan SaaS karena mereka bisa membuat sendiri fungsi yang sama menggunakan AI seperti Claude atau ChatGPT.
Fenomena ini memunculkan istilah baru yang cukup populer, yaitu “SaaSpocalypse”, sebuah gambaran bahwa AI akan menghancurkan industri SaaS karena pengguna tidak lagi membutuhkan aplikasi berlangganan.
Namun, benarkah semua software akan tergantikan oleh AI?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
AI Memang Mengubah Dunia Software
Beberapa aplikasi modern memang mulai terancam oleh perkembangan AI.
Contohnya adalah aplikasi yang berfokus pada kemudahan antarmuka (user interface) seperti:
-
Canva
-
Figma
-
Zapier
-
Resend
-
Supabase
-
Browserbase
Banyak fungsi dari aplikasi-aplikasi tersebut kini bisa dibuat menggunakan AI dengan waktu yang relatif singkat.
Misalnya, seseorang dapat menggunakan AI untuk membuat desain sederhana, mengotomatisasi proses kerja, atau bahkan membangun aplikasi kecil tanpa harus berlangganan layanan tertentu.
Karena itu, perusahaan SaaS yang hanya mengandalkan tampilan menarik dan fitur umum memang menghadapi tantangan besar.
Tidak Semua SaaS Sama
Masalahnya, banyak orang menyamakan semua software dengan aplikasi-aplikasi tersebut.
Padahal dunia software memiliki beberapa lapisan.
Lapisan Pertama: SaaS Umum
Ini adalah aplikasi yang digunakan oleh berbagai jenis perusahaan tanpa fokus pada industri tertentu.
Contohnya:
-
Canva
-
Asana
-
Monday.com
-
Dropbox
-
Smartsheet
Aplikasi seperti ini relatif lebih mudah digantikan karena sebagian besar fiturnya bersifat umum dan tidak terlalu kompleks.
Lapisan Kedua: SaaS Enterprise
Lapisan berikutnya adalah software perusahaan besar seperti:
-
Salesforce
-
Workday
-
Snowflake
-
ServiceNow
-
Zoom
Software ini memiliki integrasi yang lebih dalam dengan bisnis pelanggan, tetapi masih bersifat umum dan digunakan di banyak sektor industri.
Beberapa dari mereka mungkin akan mengalami tekanan akibat AI, namun belum tentu hilang sepenuhnya.
Software yang Menjalankan Dunia Nyata
Yang sering terlupakan dalam diskusi “AI akan menggantikan software” adalah keberadaan software enterprise yang sangat kompleks.
Software inilah yang sebenarnya menjalankan ekonomi dunia.
Contohnya:
-
Epic untuk rumah sakit
-
SAP untuk ERP dan rantai pasok
-
Oracle untuk sistem keuangan perusahaan
-
Amadeus dan Sabre untuk reservasi maskapai
-
Guidewire untuk industri asuransi
-
FIS dan Fiserv untuk perbankan
-
ABB, Siemens, Honeywell, dan Rockwell untuk industri manufaktur dan pembangkit listrik
Software-software ini tidak hanya berisi kode program.
Mereka menyimpan puluhan tahun pengalaman bisnis, aturan regulasi, integrasi, dan proses operasional yang sangat kompleks.
Mengapa Sulit Digantikan AI?
1. Regulasi yang Sangat Ketat
Banyak industri memiliki aturan yang sangat ketat.
Misalnya:
-
HIPAA untuk data kesehatan
-
FDA untuk industri farmasi
-
SOX untuk laporan keuangan
-
PCI DSS untuk pembayaran digital
Software yang digunakan telah melalui audit dan pengujian selama bertahun-tahun.
Membangun ulang sistem seperti ini menggunakan AI bukanlah pekerjaan yang bisa selesai dalam beberapa hari.
2. Menyimpan Data dalam Jumlah Besar
Bayangkan rumah sakit besar yang menggunakan Epic.
Di dalamnya terdapat jutaan hingga ratusan juta data pasien.
Atau perusahaan yang menggunakan SAP selama 10-20 tahun dengan seluruh transaksi bisnis tersimpan di dalamnya.
Memindahkan seluruh data tersebut ke sistem baru bukanlah pekerjaan sederhana.
Risikonya sangat besar.
3. Memiliki Logika Bisnis yang Rumit
Software enterprise menyimpan ribuan aturan bisnis yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun.
Misalnya:
-
Aturan pajak setiap negara
-
Aturan klaim asuransi
-
Aturan keselamatan penerbangan
-
Proses manufaktur
Semua itu tidak bisa begitu saja dibuat ulang hanya dengan memberikan perintah kepada AI.
4. Biaya Kegagalan Sangat Tinggi
Jika aplikasi desain mengalami gangguan, dampaknya mungkin tidak terlalu besar.
Namun bagaimana jika sistem rumah sakit gagal?
Atau sistem perbankan berhenti beroperasi?
Dampaknya bisa sangat serius dan memengaruhi jutaan orang.
Karena itu perusahaan besar sangat berhati-hati dalam mengganti sistem inti mereka.
AI Akan Mengubah Cara Kita Menggunakan Software
Meskipun AI tidak langsung menggantikan software enterprise, AI tetap akan mengubah cara manusia berinteraksi dengan sistem tersebut.
Di masa depan, pengguna mungkin tidak lagi membuka banyak aplikasi.
Sebagai gantinya, mereka cukup berbicara dengan AI.
Contohnya:
“Berikan laporan penjualan bulan ini.”
AI akan mengambil data dari SAP atau sistem ERP lainnya, memproses informasi, lalu menampilkan hasilnya.
Dengan kata lain, AI menjadi lapisan antarmuka baru di atas software yang sudah ada.
Sistem Inti Tetap Dibutuhkan
Yang kemungkinan berubah adalah tampilan dan cara penggunaan aplikasi.
Namun sistem inti atau system of record tetap akan menjadi fondasi utama.
Contohnya:
-
Tampilan Epic bisa berubah.
-
Tampilan SAP bisa berubah.
-
Tampilan mainframe pemerintah bisa berubah.
Tetapi database, logika bisnis, integrasi, dan data yang ada di dalamnya tetap menjadi aset yang sangat berharga.
Kesimpulan
AI memang sedang mengubah industri software dengan sangat cepat. Banyak aplikasi SaaS sederhana dan umum mulai menghadapi tekanan karena pengguna kini bisa membuat solusi sendiri menggunakan AI.
Namun, tidak semua software akan tergantikan.
Software enterprise yang menjalankan rumah sakit, bank, perusahaan manufaktur, maskapai penerbangan, dan pemerintahan memiliki keunggulan yang jauh lebih dalam dibanding sekadar antarmuka aplikasi.
Dalam beberapa tahun ke depan, AI kemungkinan besar akan menjadi asisten cerdas yang bekerja bersama sistem-sistem tersebut, bukan menggantikannya sepenuhnya.
Jadi ketika mendengar pernyataan bahwa “AI akan menghilangkan semua software”, penting untuk memahami bahwa yang paling terdampak adalah lapisan software yang sederhana. Sementara software inti yang menjalankan ekonomi dunia masih akan tetap menjadi fondasi penting dalam transformasi digital di era AI.
citrix Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi citrix.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
